Cerita Inspiratif
Sunday, November 23, 2003
 
Anak Kecil [2]

Sebagai anak kecil, saya selalu ingin agar secepatnya tumbuh dewasa.
Sebab menjadi dewasa, menurut anggapan saya waktu itu, adalah kunci
menuju kebebasan.

Orang dewasa adalah orang yang bebas pergi ke mana suka, bebas memilih
dan membeli apa saja yang ia maui. Orang dewasa juga adalah orang yang
tidak lagi dicereweti dengan kalimat-kalimat,"Jangan makan permen banyak-banyak, nanti sakit gigi" , atau,"Heiii!! Jangan main jauh-jauh", atau,"Jangan
lari-lari, nanti jatuh lagi baru tau rasa".

Dan ternyata anggapan saya waktu itu, sedikit banyak ada benarnya.

Tetapi sebagaimana halnya dengan segala sesuatu di dunia ini,
kebebasan sebagai orang dewasa juga bukanlah sesuatu yang gratis:
sebagai orang dewasa, kita dituntut oleh lebih banyak kewajiban dan
tanggung jawab

Kini sebagai orang dewasa, saya terkadang merasa sangat lelah memikul
beratnya kewajiban dan tanggungjawab itu. Apalagi bila saya
berkesempatan hadir dalam sebuah acara keluarga, di mana ada begitu
banyak anak kecil yang datang berserta segala keriangan mereka. Sungguh,
saya merasa begitu tua dan jauh.....begitu lelah.

Rasanya, jika saja kuasa atas sang waktu ada di tangan ini, ingin saya
putar waktu kembali ke masa silam, ketika saya sebagai anak kecil yang
ceria, yang riang, mengisi hidup hanya dengan bermain dan tertawa.

Chuang 031201


Comments-[ comments.]
 
Anak Kecil

Mengamati tingkah laku keponakan laki-laki saya, sungguh mengasyikkan. Hong-hong, nama anak itu, suka sekali dengan segala benda yang bagi saya sangatlah remeh. Ia misalnya, suka dengan segala macam kardus, karet gelang, tali, sapu, payung dan bahkan juga sandal jepit dekil milik saya.

Ketika ia mengambil sandal jepit dekil saya, saya biasanya akan berteriak kepadanya “Hus, itu eek lho!” Tetapi rupanya ia tidak peduli, atau belum mengerti bahwa sebaik-baiknya sandal, tetapnya kotor karena tempatnya dibawah. Ia hanya tahu sandal jepit dekil itu menarik hatinya.

Saya jadi teringat kembali pada kenangan masa kecil dulu. Ada seorang kakak sepupu saya yang juga suka sekali mengumpulkan benda-benda remeh temeh, dan menganggap benda-benda itu adalah harta kekayaannya. Seperti bungkus rokok (bungkus rokok Marlboro lebih berharga ketimbang bungkus rokok Gudang Garam), kartu-kartu bergambar (kartu bergambar Superman lebih sakti ketimbang kartu bergambar Robin) dan kelereng (kelereng dengan warna-warna tertentu nilainya bisa 2 kali kelereng biasa).

Saya tidak tahu bagaimana persisnya penjelasan tentang mengapa anak-anak kecil suka sekali dengan benda-benda yang bagi orang dewasa sangatlah remeh. Tetapi yang pasti, kita semua tidak berbeda dengan anak-anak kecil itu.

Kita hdiup di dunia ini dan kita tertarik dengan segala macam benda-benda duniawi, yang bagi para suci, dipandang sebagai benda-benda remeh temeh. Kita menyukai kenikmatan hidup yang diberikan oleh materi duniawi, sama seperti anak-anak kecil menyukai benda-benda remeh temeh, dan menganggap hal itu sangat berharga.

Chuang 180801



Comments-[ comments.]
 
Dunia RIbut

Andaikata ada seseorang yang seumur hidupnya--mulai lahir sampai beranjak dewasa--tinggal di hutan yang hanya dipenuhi oleh heningnya suara alam, lalu suatu hari tiba2 dibawa pergi ke dunia yang kita anggap sebagai dunia yang beradab, dunia modern ini. Pastilah orang itu akan sangat terkejut dan serta merta akan berkomentar,”Betapa ributnya dunia yang beradab itu.”

Tak peduli kita sadar atau kita tak (mau) menyadari, kehidupan kita sehari2 di dunia yang beradab ini benar2lah sangat ribut. Dan dari waktu ke waktu, tampaknya kita makin takut pada kesendirian dalam keheningan nan sunyi, saat di mana suara hati berkesempatan bercerita pada kita tentang jati diri kita yang sejati.

Tengoklah kehidupan seorang ibu rumah tangga pada suatu pagi. Sambil memasak atau membersihkan rumah, ia tak lupa menyetel tv atau radio keras2. Kilahnya, sebagai teman bekerja. Sebab baginya, akan terasa berat sekali bekerja dalam kesunyian.

Atau bagaimana dengan anak2 muda yang mengaku2 sebagai pecinta alam, yang datang ke kaki gunung2 atau pinggiran telaga2 untuk berkemah, tetapi sambil tak lupa membawa seperangkat gitar plus tape recorder atau walkman? Mengapa mereka begitu takut menikmati musik alam nan hening, mendengar pesan perdamaian dari suara hatinya sendiri?

Mengapa kita manusia2 modern ini tampak begitu benci berdiam di tengah2 keheningan, untuk memasuki diri kita, untuk mengenal siapa kita, mencari tahu di mana akar kita?

Mengapa kita begitu ribut?

Chuang 101102


Comments-[ comments.]
 
Dunia Ribut

Andaikata ada seseorang yang seumur hidupnya--mulai lahir sampai beranjak dewasa--tinggal di hutan yang hanya dipenuhi oleh heningnya suara alam, lalu suatu hari tiba2 dibawa pergi ke dunia yang kita anggap sebagai dunia yang beradab, dunia modern ini. Pastilah orang itu akan sangat terkejut dan serta merta akan berkomentar,”Betapa ributnya dunia yang beradab itu.”

Tak peduli kita sadar atau kita tak (mau) menyadari, kehidupan kita sehari2 di dunia yang beradab ini benar2lah sangat ribut. Dan dari waktu ke waktu, tampaknya kita makin takut pada kesendirian dalam keheningan nan sunyi, saat di mana suara hati berkesempatan bercerita pada kita tentang jati diri kita yang sejati.

Tengoklah kehidupan seorang ibu rumah tangga pada suatu pagi. Sambil memasak atau membersihkan rumah, ia tak lupa menyetel tv atau radio keras2. Kilahnya, sebagai teman bekerja. Sebab baginya, akan terasa berat sekali bekerja dalam kesunyian.

Atau bagaimana dengan anak2 muda yang mengaku2 sebagai pecinta alam, yang datang ke kaki gunung2 atau pinggiran telaga2 untuk berkemah, tetapi sambil tak lupa membawa seperangkat gitar plus tape recorder atau walkman? Mengapa mereka begitu takut menikmati musik alam nan hening, mendengar pesan perdamaian dari suara hatinya sendiri?

Mengapa kita manusia2 modern ini tampak begitu benci berdiam di tengah2 keheningan, untuk memasuki diri kita, untuk mengenal siapa kita, mencari tahu di mana akar kita?

Mengapa kita begitu ribut?

Chuang 101102


Comments-[ comments.]
Saturday, November 22, 2003
 
Gandhi Yang Kesepian

Di masa seperti sekarang ini, di waktu amarah memenuhi udara dan dendam membakar dada setiap orang, adakah kita ingat akan Gandhi?

Meskipun orang-orang memberinya gelar Mahatma, Gandhi mungkin bukan sosok yang sempurna. Tetapi apa yang ia coba buktikan pada dunia, bahwa kekerasan dapat dilawan dengan kelembutan, api dipadamkan dengan air, telah membuka mata kita: ada satu cara yang jauh lebih mulia dalam menghadapi kekerasan.

Tetapi cara Gandhi itu, ahimsa, bukanlah cara yang mudah. Sebab ia membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri, yang kedua itu pada kita makin lama makin pupus. Dikarenakan kehidupan kita yang hedonis, serba instan dan materialis.

Dan kini, ketika orang lebih memilih tuntunan amarah dan dendam, mata di bayar mata, nyawa di tukar nyawa, terror di balas terror, Gandhi tak teringat lagi. Gandhi yang malang. Gandhi yang kesepian di tengah hiruk pikuk amarah dan dendam balas membalas.

Chuang 280901


Comments-[ comments.]
 
Ulat dan Kegelapan

Seorang teman memberi satu tip mengenai cara memilih sayuran di pasar. Katanya, carilah sayuran yang ada ulatnya. Semula saya menganggap ini lelucon terbaru darinya, tapi tampaknya dia tidak sedang melawak. Katanya, sayuran yang masih ada ulatnya memang kelihatan jelek, tapi sesungguhnya justru aman dan sehat dikonsumsikan. Sebab dapat dipastikan sayuran tersebut bebas atau paling tidak sangat sedikit terpapar pestisida. Terbukti dengan adanya ulat yang masih segar bugar.

Wah, benar juga, saya menggumam dalam hati.

Selama ini kita mungkin menganggap sebagai suatu kesialan kalau sampai terbeli oleh kita sayuran yang berulat. Tetapi seperti yang sering dikatakan oleh orang2 bijak, selalu ada hikmah dibalik setiap kesialan atau kegagalan. Dan bahwa untung atau rugi seringkali cuma sebatas sikap atau cara pandang yang berbeda. Demikian juga dengan sayuran yang berulat yang umumnya dianggap sebagai suatu kesialan, pada kenyataannya ulat pembawa sial itu justru menjadi petanda baik, sebuah kabar gembira: sayuran ini bebas racun pestisida.

Dalam peristiwa yang berbeda seperti peristiwa padamnya listrik baru2 ini di kota New York, yang selama ini kita kenal sebagai kota yang tak pernah tidur, ada satu komentar dari warga New York yang saya baca di koran. Komentar itu sangat menarik sekali, dan dengan jelas menunjukkan sang komentator sebagai orang yang cukup bijak dalam menyikapi suatu bencana atau kegagalan. Saya kutip di sini komentarnya: “ Sekarang (dalam situasi padamnya listrik di New York yang menyebabkan malam menjadi gelap gulita) kita bisa melihat bintang-bintang di langit New York.”

Sebuah komentar yang inspiratif, menggambarkan cara pandang yang positif dan bersemangat dalam menghadapi setiap kegagalan atau bencana.

Chuang 190803

Comments-[ comments.]
 
Ulat dan Kegelapan

Seorang teman memberi satu tip mengenai cara memilih sayuran di pasar. Katanya, carilah sayuran yang ada ulatnya. Semula saya menganggap ini lelucon terbaru darinya, tapi tampaknya dia tidak sedang melawak. Katanya, sayuran yang masih ada ulatnya memang kelihatan jelek, tapi sesungguhnya justru aman dan sehat dikonsumsikan. Sebab dapat dipastikan sayuran tersebut bebas atau paling tidak sangat sedikit terpapar pestisida. Terbukti dengan adanya ulat yang masih segar bugar.

Wah, benar juga, saya menggumam dalam hati.

Selama ini kita mungkin menganggap sebagai suatu kesialan kalau sampai terbeli oleh kita sayuran yang berulat. Tetapi seperti yang sering dikatakan oleh orang2 bijak, selalu ada hikmah dibalik setiap kesialan atau kegagalan. Dan bahwa untung atau rugi seringkali cuma sebatas sikap atau cara pandang yang berbeda. Demikian juga dengan sayuran yang berulat yang umumnya dianggap sebagai suatu kesialan, pada kenyataannya ulat pembawa sial itu justru menjadi petanda baik, sebuah kabar gembira: sayuran ini bebas racun pestisida.

Dalam peristiwa yang berbeda seperti peristiwa padamnya listrik baru2 ini di kota New York, yang selama ini kita kenal sebagai kota yang tak pernah tidur, ada satu komentar dari warga New York yang saya baca di koran. Komentar itu sangat menarik sekali, dan dengan jelas menunjukkan sang komentator sebagai orang yang cukup bijak dalam menyikapi suatu bencana atau kegagalan. Saya kutip di sini komentarnya: “ Sekarang (dalam situasi padamnya listrik di New York yang menyebabkan malam menjadi gelap gulita) kita bisa melihat bintang-bintang di langit New York.”

Sebuah komentar yang inspiratif, menggambarkan cara pandang yang positif dan bersemangat dalam menghadapi setiap kegagalan atau bencana.

Chuang 190803



Comments-[ comments.]
 
Ulat dan Kegelapan

Seorang teman memberi satu tip mengenai cara memilih sayuran di pasar. Katanya, carilah sayuran yang ada ulatnya. Semula saya menganggap ini lelucon terbaru darinya, tapi tampaknya dia tidak sedang melawak. Katanya, sayuran yang masih ada ulatnya memang kelihatan jelek, tapi sesungguhnya justru aman dan sehat dikonsumsikan. Sebab dapat dipastikan sayuran tersebut bebas atau paling tidak sangat sedikit terpapar pestisida. Terbukti dengan adanya ulat yang masih segar bugar.

Wah, benar juga, saya menggumam dalam hati.

Selama ini kita mungkin menganggap sebagai suatu kesialan kalau sampai terbeli oleh kita sayuran yang berulat. Tetapi seperti yang sering dikatakan oleh orang2 bijak, selalu ada hikmah dibalik setiap kesialan atau kegagalan. Dan bahwa untung atau rugi seringkali cuma sebatas sikap atau cara pandang yang berbeda. Demikian juga dengan sayuran yang berulat yang umumnya dianggap sebagai suatu kesialan, pada kenyataannya ulat pembawa sial itu justru menjadi petanda baik, sebuah kabar gembira: sayuran ini bebas racun pestisida.

Dalam peristiwa yang berbeda seperti peristiwa padamnya listrik baru2 ini di kota New York, yang selama ini kita kenal sebagai kota yang tak pernah tidur, ada satu komentar dari warga New York yang saya baca di koran. Komentar itu sangat menarik sekali, dan dengan jelas menunjukkan sang komentator sebagai orang yang cukup bijak dalam menyikapi suatu bencana atau kegagalan. Saya kutip di sini komentarnya: “ Sekarang (dalam situasi padamnya listrik di New York yang menyebabkan malam menjadi gelap gulita) kita bisa melihat bintang-bintang di langit New York.”

Sebuah komentar yang inspiratif, menggambarkan cara pandang yang positif dan bersemangat dalam menghadapi setiap kegagalan atau bencana.

Chuang 190803



Comments-[ comments.]
Thursday, October 02, 2003
 
ASLI

Saya pernah punya sebuah kaos produksi pabrik kata2 Mr. Joger Kuta-Bali yang terkenal itu. Seperti umumnya kaos2 produksi Mr. Joger Kuta-Bali, kaos saya itu juga berisi kata2 unik nan lucu buah karya Mr. Joger. Kata2 yang tersablon di kaos saya adalah kata ASLI, yang menurut Mr. Joger, merupakan singkatan dari “Akademi Seni Lupa Ingatan” , dengan keterangan dibawahnya “Jurusan Lupa Daratan dan Lupa Lautan”.

Mungkin Mr. Joger hanya bermaksud bermain kata2, tetapi menurut saya, di balik permainan kata2nya itu, ada kebenaran yang bersinar terang.

Tak diragukan lagi, jika kita menengok ke sejarah peradaban manusia, dari masa lalu yang jauh tak terkira hingga di masa kini, akan banyak kita temukan orang2 atau bangsa2 yang merupakan alumni dari Akademi Seni Lupa Ingatan atawa ASLI, jurusan lupa lautan dan lupa daratan.

Para alumnus dari Akademi Seni Lupa Ingatan (ASLI) jurusan lupa lautan dan lupa daratan itu dapat kita temukan dalam diri manusia2 kacang yang lupa pada kulitnya. Dan dalam lingkup bangsa dan negara, contoh terbaru sekaligus ironis nan tragis: Bangsa Israel.

Betapa pendek ingatan Bangsa Israel ini, ketika pada masa perang dunia II mereka diburu2 oleh NAZI. Kini sang buruan itu telah lulus dari Akademi Seni Lupa Ingatan (ASLI) dengan gemilang, dan berubah menjadi monster pemburu yang memburu Bangsa Palestina.

Chuang 190502


Comments-[ comments.]
 
Berbagi Suka dan Duka

Menonton film2 hollywood, khususnya film drama, ada satu percakapan yang menjadi standar untuk adegan dimana ketika salah satu tokoh sedang mengalami konfik dan tokoh lainnya bertanya tentang keadaannya. Biasanya sang tokoh yang sedang cemas itu, atau sedang sedih, atau sedang bingung karena konflik yang dialaminya, akan menjawab “Ya, saya baik2 saja”, meskipun kita tahu bahwa keadaannya tidaklah baik2 saja.

Sebuah ungkapan yang entah siapa pencetusnya berujar kira2 begini “Bila anda sedang berbahagia, bagilah kebahagiaan itu agar terasa lebih besar. Sebaliknya, bila anda sedang bersedih, bagilah kesedihan itu agar terasa lebih ringan.”

Dari kehidupan kita sehari2, tampak jelas sekali untuk membagi kebahagiaan tidaklah sesulit untuk membagi kesedihan. Sebab dalam kegembiraan karena sesuatu kebahagiaan, kita mudah untuk berbagi, dan kita mudah untuk menemukan seseorang untuk tempat berbagi. Bukankah sangat mudah menemukan teman yang berkata “Ya” untuk setiap undangan makan dalam pesta pernikahan atau pesta kelulusan?

Lain soal bila kita sedang bersedih. Seperti kebanyakan tokoh di film2, kita cenderung berbohong, merasa enggan atau malu untuk mengungkapkan kesedihan kita, kebingungan kita, kecemasan kita. Karena kita menganggap diri kita akan terlihat lemah atau cengeng karenanya. Dan bukan hanya itu, juga untuk mencari seseorang yang bersedia mendengar keluh kesah kita, mencari seorang pendengar yang baik bagi kisah sedih kita tidaklah mudah.

Berbagi suka, bertambahlah sukanya. Berbagi duka, berkuranglah dukanya. Sungguh berbahagia bila dalam kehidupan ini, kita mampu dan bersedia berbagi suka dan duka bersama orang2 baik yang menjadi sahabat sejati dalam suka dan duka.

Chuang 150801


Comments-[ comments.]
 
Dijual: Partai-Partai dengan Harga Partai

Rasanya, makin lama kita hidup di Republik Indonesia ini, disamping makin sering (terpaksa) makan hati karena tingkah laku konyol politikus2nya, juga sekaligus kita makin sering tertawa terbahak2.

Dalam kaitannya dengan ini, mungkin ada benarnya perkataan Kirun si badut, bahwa para politikus kita itu sudah menjadi pesaing berat para badut di dunia perbadutan.

Seperti yang terjadi baru2 ini mengenai adanya berita tentang kekonyolan jenis terbaru yang sebenarnya tidak baru alias sudah basi. Apa lagi kalo bukan soal partai2 yang bermunculan bagai—bak kata pepatah yang sudah klise banget—cendawan di musim hujan.

Ini sebenarnya fenomena biasa yang terjadi di republik ini kalo waktunya sudah mulai dekat pemilu. Seperti musim saja, ada waktunya musim hujan ada waktunya musim panas. Dan di waktu saya kecil dulu, ada waktunya musim layangan (sekarang masih ada lho di Bali), ada waktunya musim adu gundu, ada waktunya musim adu jangkrik. Kalo menuruti dunia ABG cewek, tentunya ada waktunya musim Meteor Garden, ada waktunya tergila2 sama cowok halus yang bernama Vic Zhou hehehehhehehe……….

Nah, berhubung para politikus kita juga manusia biasa seperti kaum ABG atau kaum anak2, mereka juga punya musimnya sendiri. Dulu kita kenal musim gate2an yang super konyol itu, juga musim hibah2an yang memalukan itu. Tetapi sekarang musim sudah berganti, para politikus kita lagi doyan sama mainan baru: rame2 bikin partai. Dan kalo menuruti bahasa orang dagang macam saya, para politikus kita sekarang ini lagi teriak2 jualan partai, “Hoiiii, Dijual partai dengan harga partai.”

Partai2 yang dijual—seperti juga barang2—ada banyak ragamnya. Ada partai rasa soekarnois atawa marhaenis, ada partai rasa nasionalis atawa kebangsaaan, ada partai rasa agama dan ada pula partai yang rasanya rame banget seperti sejenis permen.

Pendek kata, kita rakyat sebagai konsumen saat ini diberi banyak tawaran dan janji2 dari seratus lebih partai dengan beranekaragam cara berjualannya. Pokoknya kalo sudah soal partai, republik ini mungkin bisa masuk catatan sebagai gudangnya partai dan politikus (selain gudangnya pengamat) hehehehhhehe….

Tapi masalahnya di sini, apakah kita memang butuh beranekaragam partai dengan beranekaragam model politikus sebagai penghuninya?

Rasanya tidak (saya tidak berani memastikan, soalnya belum bikin survei). Tapi yang jelas, rakyat membutuhkan seorang PEMIMPIN, seorang NEGARAWAN yang punya TELINGA dan HATI NURANI yang peka terhadap KEINGINAN atau SUARA rakyat.

Kita tidak butuh POLITIKUS yang berperilaku seperti TIKUS. Kita tidak butuh PARTAI yang berjualan janji2 dengan harga PARTAI.

Rakyat di republik ini butuh KESEJAHTERAAN supaya mereka dapat hidup dengan LAYAK sebagai seorang MANUSIA. Dan dengan itu, mereka bisa MELATIH dirinya demi menuju KESEMPURNAAN dan KEBAHAGIAAN tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang MANUSIA BIASA, sesuai dengan KEYAKINAN dan AJARAN yang dianutnya.

Rakyat di republik ini tidak butuh DEMOCRAZY yang diparadekan oleh bermunculannya PARTAI2 dengan segala OMONG KOSONG tentang DEMOKRASI, tentang MEMBELA KEPENTINGAN RAKYAT, tentang PEMBERANTASAN KKN, tentang MENUJU INDONESIA BARU, tentang TETEKBENGEK yang benar2 TETEKBENGEK.

Bukankah keinginan rakyat di republik ini sebenarnya adalah keinginan yang sederhana, yang sangat manusiawi? Sejatinya, rakyat di republik ini adalah orang2 biasa yang sederhana.

Seperti kata Iwan Fals,”Jangan bicara soal nasionalisme, mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri atau tentang kita yang buta bisul tumbuh subur di ujung hidung yang memang tak mancung.” (Jangan Bicara, dari album “Indonesia Dalam Berita”)

Chuang 280702



Comments-[ comments.]
 
Ku menanti Wajah Koruptor

Tiap hari nonton berita di tivi, nggak pernah ketinggalan yg namanya berita kriminal. Entah itu disisipkan di acara berita umum atau dibuatkan acara khusus yg sekarang lagi menjamur, dgn namanya2 macam BUSER, DERAP HUKUM, JEJAK KASUS, atau kayak nama majalah, FAKTA.

Tiap nonton acara2 macam itu, seringkali saya geleng2 kepala dan mengelus dada (hehehehehhe, dada saya sendiri dong).

Yah…., inilah acara yg menampilkan orang2 kalah, gitu sering saya berkata dalam hati. Orang2 kalah yg terpinggirkan. Sebagian dari mereka adalah orang2 yg dikalahkan atau dipaksa kalah oleh keadaan dam sistem yg tidak adil. Tetapi tak jarang juga mereka cumalah orang2 tolol yg dikalahkan oleh nafsu2nya sendiri.

Tapi di antara wajah2 kuyu yg menunduk malu, wajah2 para pencopet atau perampok, wajah2 para PSK dan waria apes yg tergaruk oleh petugas, saya selalu mencari2 dan terus mencari: dimanakah wajah2 dari koruptor2 kita yg terhormat itu, wajah2 kriminalis terhormat kita?

Saya bosan melihat wajah2 kuyu kusam nan berminyak yg terkadang kurang gizi dan perlu masuk salon kecantikan buat ganti kulit (biar kayak uler). Saya rindu wajah2 gemuk putih mulus licin kayak pakaian yg dikasih kanji. Wajah2 milik para maling gede kita, wajah2 badak milik politisi kita yg nggak setia sama hati nuraninya.

Kapankah acara2 macam BUSER, DERAP HUKUM, JEJAK KASUS, dan FAKTA itu akan menampilkan bintang2 kesayangan saya itu? Kemakah saya harus meminta dan bertanya?

Kata Bang Ebiet, tanyalah pada rumput yg bergoyang….hehehehhehee…..tapi rumputnya nggak bergoyang a la Inul lho….heboooooh.

Chuang 100203



Comments-[ comments.]
Tuesday, September 23, 2003
 
Orang Yang Berbahagia

Apakah dapat disebut egois bila dalam setiap doa kita, kita mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Seorang teman dalam satu kesempatan menvonis saya sebagai orang yang egois, karena ketika ia bertanya kepada saya,”Seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan, apakah yang akan kamu mintakan?” Saya menjawab,”Saya menginginkan kebahagiaan.”

Apa salahnya mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Saya percaya bahwa setiap orang yang berbahagia adalah pribadi-pribadi yang elok, yang bijak dan hidup dalam kebajikan. Tak akan pernah ada seorang yang berbahagia, menjadi si trouble maker, tukang rusuh yang menyebalkan. Sebab ia sendiri adalah orang yang berbahagia, maka ia akan berkecenderungan untuk memancarkan kebahagiaannya itu kepada orang-orang disekitarnya, kepada setiap orang yang mengenalnya, melalui setiap pikiran, perbuatan dan perkataannya. Pendek kata, ialah yang dapat kita sebut sebagai “ yang membawa kebahagiaan bagi setiap makhluk.”

Sebaliknya si tukang rusuh, tukang buat masalah dan sejenis itu, umumnya dapat dipastikan adalah orang-orang yang tak berbahagia. Dikarenakan ia sendiri pada dasarnya tak berbahagia, ia lalu memancarkan ketidakbahagiaannya itu dengan membuat orang lain juga tak bahagia: membuat rusuh, menciptakan berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Chuang 220202







Comments-[ comments.]
 
Bahasa Cinta

Ibuku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, atau orang yang menguasai banyak hal dan berbicara dalam banyak bahasa. Itu menurutku, tidak penting. Sebab ada satu hal yang membuat ia menjadi sangat istimewa, satu hal yang sering lalai ku sadari: ia menguasai bahasa cinta.

Tetapi itu tidak berarti ibuku berbicara tentang cinta padaku secara verbal. Ibuku juga tak pernah secara langsung menyatakan bahwa ia sayang padaku atau ia sungguh-sungguh mencintai aku. Dan ku kira, ini pasti dikarenakan latar belakang budaya timur yang tidak lazim mengenal pengungkapan perasaan secara verbal.

Tetapi ketika ia dengan segera menyiapkan sepiring nasi ketika ia tahu aku hendak makan dan itu ia lakukan tanpa menanti permintaan atau persetujuan dariku (dan jujur saja, kadang-kadang ini membuatku risih karena aku merasa diperlakukan seperti anak kecil). Atau setiap pagi ia bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga, menyiapkan dan membawakan makanan kecil ketika aku sedang asyik menonton tv, aku tahu, ia sedang berbicara bahasa cinta melalui itu semua. Ia sedang berbicara padaku tentang kepeduliannya, tentang cinta dan rasa sayangnya padaku.

Akan halnya ayahku, tidak berbeda jauh. Meskipun harus ku akui terkadang aku merasa benci setengah mati terhadapnya, terhadap kekeraskepalaannya, kecenderungannya untuk mencari kambing hitam dan ketidaksportifannya, aku tahu, ia pun menguasai bahasa cinta pula.

Ia memang tidak pernah menyiapkan sarapan atau menyediakan nasi untukku, tetapi ia menunjukkan rasa cintanya sebagai seorang ayah, sebagai seorang kepala keluarga: ia selalu siap membantu aku tanpa aku harus memintanya terlebih dahulu.

Ibu dan ayahku manusia-manusia penyayang, yang tahu bagaimana menggunakan bahasa cinta.

Meskipun terkadang—sebagai manusia biasa—kami melakukan kesalahan atau saling menyakiti hati masing-masing dan membuatku lalai menyadari arti penting mereka, aku berusaha untuk mengingat setiap kata dari tindakan mereka: setiap kata dari bahasa cinta yang mereka curahkan padaku.

Chuang 031001




Comments-[ comments.]
 
Bulan

Malam ini terang bulan, diwajahnya kulihat sebuah episode dari kehidupan masa kecilku dulu.

Saat itu, kami sekeluarga masih tinggal di pemukiman di pusat Kota Denpasar. Ibuku memiliki sebuah toko kecil yang menjual barang2 keperluan sehari2. Toko itu terletak di Jalan Diponegoro di kotaku, sebuah jalan yang sangat sibuk dan padat. Setiap pagi hari, aku diajak ibu pergi ke toko dengan berjalan kaki dari rumah kami yang terletak di sebuah gang kecil yang padat oleh rumah2 lainnya. Kami memilih berjalan kaki karena memang jarak antara rumah dengan toko tidak terlalu jauh. Barulah bila malam tiba, ayahku datang menyusul, dan saat toko tutup kami semua pulang ke rumah dengan menyewa dokar (kereta kuda/andong).

Kuingat dengan jelas, suatu malam terang bulan. Seperti biasa, kami semua pulang dengan menyewa dokar. Di awal perjalanan pulang, aku suka mendongak melihat bulan, sebab sinarnya yang lembut itu menarik hatiku. Dan di tengah2 perjalanan, sesekali aku masih menengok ke atas, melihat wajah bulan yang menyenangkan itu.

Sembari hatiku berceloteh kagum akan keindahannya, aku pun tak habis pikir mengapa bulan yang bulat itu seolah2 selalu ada di mana2, di awal perjalananku ia ada, di tengah2 perjalanan ia pun ada dan ketika kami sampai di mulut gang rumah kami pun ia pasti ada manakala aku melihat ke atas.

“Ayah, apakah bulan itu punya kaki hingga ia bisa mengikuti kita pulang?” dengan heran aku bertanya pada ayahku. Sebagai jawabannya, ia hanya tertawa dan lalu berkata dalam nada canda, “Mungkin bulan memang punya kaki, seperti katamu.”

Sebagai anak kecil yang memuja ayahnya, yang menganggap ayahnya sebagai orang yang paling tahu, aku percaya pada kata2 ayahku yang sebenarnya dimaksudkan untuk menggodaku. Karena itu, aku mulai mencoba berpikir, dimanakah gerangan kaki sang bulan terletak? Dan bagaimana cara ia berjalan mengikuti aku?

Barulah ketika dewasa, ketika pengetahuan dan kebijaksanaanku berkembang, aku tahu bulan tak punya kaki.

Tetapi bagaimana pun, aku selalu mengingat kejadian itu sebagai suatu kenangan akan kepolosan seorang anak. Sepotong pelangi yang akan selalu menerangi hidupku.

Chuang 221102


Comments-[ comments.]
Friday, September 19, 2003
 
Sehat Itu Kaya

Ketika kecil dulu, saya senang sekali jika pada suatu hari saya jatuh sakit. Sakit bagi saya adalah kesempatan untuk bermanja2, untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtua saya. Dan pada kasus2 tertentu, jatuh sakit atau pura2 sakit bisa menjadi alasan terbaik untuk tidak masuk sekolah.

Tetapi sekarang, saat umur makin tua dan kemanjaan makin berkurang, jatuh sakit justru menjadi suatu kesulitan dan ketidaknyamanan yang menganggu aktivitas saya. Contohnya seperti kejadian baru2 ini, ketika saya harus menjalani operasi katarak pada mata saya.

Sebelum operasi dilakukan, saya mengira bahwa ini cumalah soal sederhana: begitu katarak itu dihancurkan via operasi dan lensa mata yang baru telah dipasang, maka soalnya jadi beres sudah: penglihatan langsung terang jelas dan saya tidak perlu membatasi kegiatan2 rutin saya.

Nyatanya tidak sesederhana itu. Operasi ternyata hanyalah satu tahap, tahap berikutnya pasca operasi benar2 membuat saya merasa repot dan tidak nyaman. Disamping penglihatan ternyata harus mengalami masa kabur selama 2 atau 3 minggu dan mata terasa tidak nyaman, saya pun harus terus makan obat 2 atau 3 kali sehari, meneteskan obat tetes tertentu tiap 2 jam sekali, memakai kacamata gelap sepanjang hari untuk melindungi mata dari sinar, menjaga mata supaya tidak terkena air dan sebagainya. Dan yang paling menyiksa: untuk waktu yang cukup lama, saya tidak bisa membaca buku atau menonton tv.

Selama menjalan prosedur pasca operasi yang menimbulkan ketidaknyamanan dan membatasi kegiatan rutin saya sehari2 itulah, baru saya sadari betapa berharganya kesehatan itu, dan alangkah beruntungnya orang2 yang sehat, yang jiwa raganya berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam kaitannya dengan kesadaran ini, saya teringat kata2 dari orang bijak yang berujar, ”Manusia seringkali baru menyadari sesuatu itu berharga ketika ia telah kehilangan sesuatu itu.”

Tanyalah pada seorang penderita kelainan jantung atau penyempitan pembuluh darah akibat terlalu banyak timbunan kolesterol atau karena kebiasaan merokok. Bagaimanakah penderitaannya karena kelainan atau penyakitnya itu? Bagaimanakah rasanya terkena serangan jantung? Bagaimana ketidaknyamanan hidupnya untuk berpantang makan ini makan itu, untuk tidak boleh berkegiatan ini berkegiatan itu, untuk harus ingat makan sekian pil pada waktu2 yang telah ditentukan, untuk terus harus bersiap2 suatu ketika akan dijemput oleh malaikat maut? Juga, tanyalah pula seperti apa rasa bosannya karena harus terus bertemu makhluk putih-putih berstetoskop? Dan berapa banyak pengorbanan materi (baca: duit) yang harus ia lakukan untuk tetap menjaga hidupnya? Saya yakin dari jawaban2nya, di samping terlontar harapan2 akan kesehatannya, kita akan menemukan banyak ungkapan2 penyesalan dan rasa “iri” terhadap orang2 yang sehat.

Bagi seorang anak kecil yang masih suka bermanja2, terkena flu atau demam boleh saja menjadi kesempatan untuk mendapat perhatian lebih dari orangtuanya, atau sebagai peluang untuk menghindar dari pelajaran matematika di sekolah. Tetapi bagi kebanyakan kita, jatuh sakit justru akan menjadi awal dari kesulitan2 dan ketidaknyaman2 yang membatasi kegiatan kita sehari2. Dan di masa ketika materialisme berkuasa seperti sekarang ini, jatuh sakit bisa berarti jatuh miskin.

Bahwa sehat itu adalah kekayaan yang utama, bahwa sehat itu berarti kaya (tetapi tidak sebaliknya), mungkin banyak orang pernah mendengar dan setuju dengan pernyataan2 itu. Tetapi bila kita lihat di seputar kita, tampaknya, kesehatan adalah hal terakhir yang kita sadari untuk disyukuri.

Banyak contoh yang dapat ditulis di sini mengenai wujud dari tiadanya rasa syukur itu. Antara lain, bermuram durja, putus asa, menyia-siakan energi muda dengan merokok, begadang, minum minuman keras, minum pil koplo atau sejenisnya dan sebagainya kegiatan2 tak berguna yang hanya menyakiti dan merusak diri sendiri.

Jadi, saya percaya, disamping hemat, sehat itu juga pangkal kaya. Karena sehat itu salah satu dari kekayaan yang utama, maka orang yang sehat adalah orang yang kaya. Tetapi tidak sebaliknya: apa gunanya kita punya segudang uang dan emas jika untuk makan coklat sebatang pun kita tak boleh atau tak bisa?

Chuang 151102



Comments-[ comments.]
 
Orang Gila dan Orang Waras

Sebuah berita di koran hari ini melaporkan pada saya tentang sebuah survei yang hasilnya sungguh2 mengejutkan: satu di antara empat penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.

Atau bila ditulis dengan kalimat yang lebih bombastis, kata gangguan jiwa pada judul laporan tersebut dapat diganti dengan kata “gila” (walaupun penggantian kata ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, karena seseorang yang mengidap gangguan jiwa belum tentu gila), maka kalimat tersebut akan berbunyi sbb: satu di antara empat penduduk Indonesia adalah orang gila.

Tentunya ini bukan kabar yang menyenangkan, bukan? Sebab, siapa sih yang senang disebut sebagai orang gila? Mungkin reaksi kita akan persis sama seperti pejabat2 di masa ORBA dulu, yang dengan serta merta bertingkah laku bak orang kebakaran jenggot kala mendengar kabar bahwa rakyat di daerahnya mengalami bencara kelaparan.

Kembali ke soal orang gila itu. Kita mengetahui atau kita dapat menyebut seseorang sebagai orang gila bila orang tersebut memenuhi kriteria2 kegilaan. Dan sebaliknya, seseorang pun dapat disebut waras apabila orang tersebut memenuhi kriteria2 kewarasan.

Persoalannya, siapakah sebenarnya yang berhak menyusun kriteria2 kegilaan dan kewarasan, dan dengan demikian berhak memutuskan seseorang sebagai orang gila dan lainnya sebagai orang waras? Siapakah si tukang stempel itu, yang mencap stempel waras pada seseorang, dan mencap stempel gila pada lainnya?

Di dunia dimana orang2 yang mengaku waras lebih dominan, maka siapa pun yang bertingkah laku diluar kriteria kewarasan yang sudah menjadi kesepakat, akan dengan mudah dicap sebagai orang gila. Dan dunia kita sekarang ini, tampaknya, adalah dunia seperti itu.

Tetapi andaikata ada sebuah dunia di mana orang2 yang kita anggap gila adalah pihak yang dominan, pihak yang berkuasa penuh. Tentunya siapa pun yang dianggap bertingkah laku waras (menurut anggapan kita di dunia kita ini), akan di cap sebagai orang gila di dunia seperti itu, bukan?

Kalau soalnya jadi begini, lalu siapakah sebenarnya orang gila dan siapa yang benar2 waras?

Bingung ya? Saya juga bingung koq hehehhehehehehe…….

Chuang 210802


Comments-[ comments.]
 
Rasa Manis, Rasa Pahit

Di dalam buku “Seni Hidup Bahagia” yang memuat perbincangannya dengan Howard C Cutler M.D, seorang Dalai Lama mempunyai keyakinan bahwa pada dasarnya setiap orang itu baik. Demikian juga seorang Anne Frank, anak yahudi yang menjadi korban kekejaman NAZI Jerman. Melalui buku hariannya yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, kita dapat temukan keyakinan yang sama pula.

Dan saya di sini, melalui pengalaman yang saya alami sendiri, juga berkeyakinan yang sama seperti mereka: pada dasarnya setiap orang itu baik adanya.

Saya ingat pengalaman saya sewaktu saya masih sebagai seorang bayi. Ketika sakit, saya harus diberi obat yang pahit sekali. Saya menolak dengan keras sambil meronta-ronta dan menangis. Sangat berbeda halnya ketika sebuah permen loli diberikan kepada saya, dengan sukacita saya menyambut manisnya rasa permen itu.

Siapakah yang mengajarkan seorang bayi menolak rasa pahit dan siapa pula yang memberitahu seorang bayi akan nikmatnya rasa manis?

Saya kira tidak ada, sebab itu semua timbul dari kesadaran kita sendiri yang menginginkan rasa manis ketimbang rasa pahit: menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, kebajikan ketimbang kejahatan.

Tetapi bila soalnya seperti itu, pastilah lalu akan muncul pertanyaan di dalam benak kita, sebuah pertanyaan yang muncul pula di benak Howard C Cutler ketika ia berbincang2 dengan Dalai Lama mengenai topik ini: tentunya dengan kenyataan bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, maka seharusnya tindakan2 kita secara otomatis haruslah merupakan tindakan2 yang baik pula, tindakan2 positif yang bersifat memelihara kebahagiaan kita, bukan? Kenyataannya?

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dalai Lama untuk menjawab pertanyaan itu. Kata beliau, persoalannya tidak seserdehana itu. Meskipun benar bahwa ada potensi positif (baik) di dalam diri setiap orang, nyatanya potensi itu harus kita kembangkan dalam pelbagai macam pelatiihan mental—spt meditasi, kontemplasi, mengembangkan kebajikan—untuk mendapatkan hasil yang kita semua cari: kebahagiaan, permen loli kehidupan.

Chuang 220701


Comments-[ comments.]
Wednesday, September 17, 2003
 
Orang-Orang Yang Tak Nampak

Kehidupan yang kita jalani ini dapat diibaratkan seperti permainan jigsaw puzzle: untuk dapat menyelesaikan gambaran besar diperlukan gabungan potongan-potongan gambar kecil yang saling melengkapi.

Adalah manusiawi sekali di tengah-tengah rutinitas kehidupan sehari-hari, sebagian besar dari kita pastilah tidak pernah berpikir tentang orang-orang tak nampak yang merupakan potongan-potongan gambar yang membentuk kehidupan kita.

Pernahkah terlintas di dalam pikiran kita dari mana asal beras yang kita tanak menjadi nasi? Pernahkah terpikir dari mana asal kemeja yang kita kenakan? Dari mana asal sepatu, sandal, sabun, lauk pauk dan sebagainya itu? Mungkin dengan mudah sebagian dari kita menjawab itu semua berasal dari uang yang kita belanjakan di supermarket dekat rumah.

Tetapi jika mau jujur, jika kita coba menelusuri semua itu kembali ke asalnya, akan kita temukan betapa panjangnya daftar orang-orang tak nampak yang ikut berperan dalam mewujudkan semua itu.

Seperti beras dari sawah yang dikelola petani, petani mengolah sawah dengan bantuan sapi pembajak dan pupuk dari pabrik, dan pabrik berjalan atas kerjasama para karyawannya. Atau seperti kemeja yang berasal dari kain yang dipintal dari benang yang diolah dari kapas yang ditanam petani dan tanah pertiwi menyediakan dirinya sebagai tempat tumbuh kembang untuknya.

Gambaran kehidupan kita terbentuk dari potongan-potongan kecil yang seringkali kita anggap remeh, hingga ia seolah-olah tak nampak ada dan kita berbesar kepala mengangkat dagu tinggi-tinggi karenanya.

Tanpa potongan-potongan kecil itu, tanpa orang-orang tak nampak itu, tak kan ada gambaran kehidupan ini: kita bukan siapa-siapa tanpa mereka.

Chuang 200701


Comments-[ comments.]
 
Hong-Hong Sang Guru

Tiap hari sabtu, hong-hong sang guru datang ke rumah saya untuk berakhir pekan, sekaligus sambil memberi les privat tentang bagaimana menahan diri, mengembangkan kesabaran, kasih sayang dan pengorbanan kepada saya. Ia akan datang dengan disertai senyum khasnya yang jenaka, dengan binar matanya yang bening, dengan celoteh-celotehnya yang ramai.

Pada awalnya, pelajaran-pelajaran yang diberikannya tidaklah susah sangat, tetapi makin lama makin terlihat kerumitannya. Tetapi anehnya, saya tidak pernah kapok. Berbeda halnya ketika saya harus belajar matematika. Atau ketika saya harus memeras otak untuk memahami mata kuliah analisa numerik.

Sebab cara hong-hong sang guru mengajar, bagi saya, sangatlah unik dan menyenangkan, hingga saya tidak merasa sedang diajar.

Ia misalnya, akan dengan cueknya lari ke sana kemari, mengacak-acak mainannya, kemudian lari lagi mengambil mainan yang lain dan mengacak-acak kembali, berceloteh dengan bahasa yang aneh tapi lucu, yang kadang-kadang dapat juga tertangkap maknanya.

Ia misalnya, akan dengan tanpa dosa mengompolin celana yang baru saja diganti akibat ompolnya yang sebelumnya. Dan ketika harus memakai celana, ia kadang-kadang menolak, untuk memilih bertelanjang bulat lari keluar hingga “burung”-nya bergoyang gontal gantul kiri kanan kiri kanan, seperti bandul jam.

Hong-hong sang guru baru berusia 1 tahun 8 bulan. Karena itu, ia belum cukup umur untuk mendapat titel profesor.

Tetapi bagi saya, ia adalah ponakan sekaligus guru saya. Guru yang mengajarkan saya bagaimana untuk tetap sabar menghadapi tingkah lakunya, bagaimana untuk bersedia mengorbankan waktu luang saya demi untuk menemaninya bermain, bagaimana untuk tetap mengasihinya meskipun ia membanting mouse saya, atau memukul-mukul dengan keras keyboard kesayangan saya.

Ia adalah guru saya, dan saya tidak malu untuk berguru pada anak 1 tahun 8 bulan.

Chuang 250401

Comments-[ comments.]

Powered by Blogger